Buka-Bukaan: Berapa Biaya Makan Atlet Mahasiswa Aceh Barat Sebulan?

Menjadi seorang mahasiswa sekaligus atlet merupakan tantangan ganda yang tidak mudah, terutama dalam hal pengelolaan finansial. Di Aceh Barat, fenomena ini menjadi perbincangan hangat di kalangan akademisi dan praktisi olahraga. Fokus utama yang sering menjadi kendala adalah mengenai manajemen nutrisi yang berbenturan dengan keterbatasan anggaran saku. Banyak orang bertanya-tanya, sebenarnya berapa besaran biaya makan yang harus dikeluarkan oleh seorang atlet mahasiswa untuk tetap menjaga performa fisik mereka tanpa harus menguras dompet terlalu dalam.

Secara umum, kebutuhan kalori seorang atlet jauh lebih tinggi dibandingkan mahasiswa biasa. Jika mahasiswa pada umumnya hanya membutuhkan sekitar 2.000 hingga 2.500 kalori, seorang atlet yang menjalani latihan intensif bisa membutuhkan hingga 3.500 kalori atau lebih. Di wilayah Aceh Barat, harga bahan pokok dan makanan jadi memiliki karakteristik tersendiri. Ketersediaan sumber protein laut yang melimpah sebenarnya menjadi keuntungan, namun pengolahannya tetap memerlukan biaya yang harus diperhitungkan secara cermat dalam anggaran bulanan.

Berdasarkan penelusuran di lapangan, rata-rata mahasiswa atlet menghabiskan dana yang cukup signifikan untuk asupan harian. Jika dirincikan, dalam satu hari mereka memerlukan minimal tiga kali makan besar dengan porsi protein tinggi, ditambah dengan asupan nutrisi tambahan seperti buah-buahan atau suplemen ringan. Di Meulaboh dan sekitarnya, satu porsi makanan bergizi lengkap dengan lauk ikan atau ayam berkisar antara 15.000 hingga 25.000 rupiah. Jika dikalkulasikan, untuk urusan makan utama saja, seorang atlet mahasiswa memerlukan sekitar 45.000 hingga 60.000 rupiah per hari.

Namun, angka tersebut belum termasuk kebutuhan mendesak lainnya seperti air mineral dalam jumlah banyak, susu tinggi protein, dan asupan karbohidrat kompleks. Jika dijumlahkan secara total dalam satu bulan, estimasi biaya makan yang dikeluarkan bisa mencapai angka 1,8 juta hingga 2,5 juta rupiah. Angka ini tentu cukup mengejutkan bagi sebagian orang, mengingat status mereka yang masih menempuh pendidikan dan mungkin hanya mengandalkan kiriman orang tua atau beasiswa prestasi. Kondisi ini memaksa para atlet di daerah tersebut untuk lebih kreatif dalam menyiasati pengeluaran tanpa mengurangi kualitas gizi.

Strategi yang sering digunakan adalah dengan memasak sendiri di kos. Dengan membeli bahan mentah di pasar tradisional, mereka bisa memangkas pengeluaran hingga tiga puluh persen. Penggunaan sumber protein lokal seperti telur dan tempe menjadi penyelamat di akhir bulan. Meskipun demikian, tantangan untuk tetap konsisten pada pola makan sehat tetaplah berat. Disiplin dalam mengatur anggaran makan adalah kunci utama agar performa di lapangan tidak merosot akibat kurangnya asupan nutrisi yang memadai.