Dalam era globalisasi yang semakin pesat, tantangan untuk menjaga identitas budaya lokal menjadi semakin berat. Salah satu pilar budaya yang paling rentan tergerus zaman adalah bahasa daerah. Menyadari hal tersebut, Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (BAPOMI) wilayah Aceh Barat meluncurkan sebuah inisiatif yang sangat unik dan segar. Mereka tidak hanya fokus pada pembinaan fisik atlet, tetapi juga menyelipkan misi kebudayaan melalui olahraga populer. Strategi yang dijalankan adalah mengintegrasikan upaya lestarikan bahasa lokal ke dalam dinamika pertandingan futsal antar mahasiswa.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Olahraga, khususnya futsal, memiliki daya tarik yang sangat kuat di kalangan generasi muda. Dengan menjadikan lapangan futsal sebagai ruang interaksi, BAPOMI mencoba memecah kekakuan dalam Lestarikan Bahasa. Dalam setiap pertandingan yang digelar, terdapat aturan unik di mana komunikasi antar pemain, instruksi pelatih, hingga teriakan suporter diarahkan untuk menggunakan bahasa daerah Aceh. Hal ini menciptakan suasana pertandingan yang berbeda, di mana nilai-nilai sportivitas bersanding mesra dengan kebanggaan akan identitas asal.
Penggunaan bahasa daerah dalam konteks olahraga kompetitif ternyata memberikan dampak psikologis yang positif. Para atlet merasa lebih memiliki ikatan emosional dengan rekan setimnya. Selain itu, kosa kata yang mungkin sudah jarang terdengar di kehidupan sehari-hari kembali muncul dan digunakan dalam situasi yang penuh semangat. BAPOMI Aceh Barat percaya bahwa pelestarian budaya tidak harus selalu dilakukan di dalam ruang kelas atau museum yang statis, melainkan bisa dihidupkan di tempat-tempat yang penuh energi seperti gelanggang olahraga.
Lebih jauh lagi, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa. Seringkali, anak muda merasa malu menggunakan bahasa ibu mereka karena dianggap tidak modern. Namun, dengan adanya dukungan dari lembaga seperti BAPOMI, pandangan tersebut perlahan mulai bergeser. Menjadi atlet yang mahir di lapangan sekaligus fasih berbahasa daerah kini menjadi kebanggaan tersendiri. Kompetisi futsal ini pun bertransformasi menjadi festival budaya mini yang dinanti-nantikan setiap tahunnya oleh civitas akademika di Aceh Barat.
Keberhasilan program ini juga terlihat dari bagaimana masyarakat sekitar merespons. Orang tua dan tokoh adat memberikan apresiasi tinggi karena melihat anak-anak muda mereka kembali mencintai akarnya. BAPOMI berhasil membuktikan bahwa inovasi dalam berorganisasi adalah kunci untuk tetap relevan. Mereka tidak hanya mencetak pencetak gol handal, tetapi juga duta-duta budaya yang siap membawa identitas Aceh ke kancah yang lebih luas. Melalui Aceh Barat sebagai titik awal, diharapkan semangat ini bisa menular ke wilayah lain di Indonesia.
